ABK Kini Punya Komunitas Baru Dinamai Sahabat Bermain Down Syndrome Lombok

Kegiatan edukasi orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK) dan pemeriksaan kesehatan yang diadakan Yayasan Lombok Care, dirangkai sekaligus dengan peluncuran Komunitas Sahabat Bermain Down Syndrome Lombok, Minggu (09/11/2025).

Lobar (ntbterkini.id) – Anak berkebutuhan khusus (ABK) di Provinsi NTB, kini memiliki komunitas baru yang dinamai Sahabat Bermain Down Syndrome Lombok. Komunitas ini diluncurkan secara resmi, Minggu (09/11/2025), di Yayasan Lombok Care, Sandik, Batulayar, Lombok Barat (Lobar).

Peluncuran komunitas ini berkat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang NTB bersama Yayasan Lombok Care dan komunitas orang tua anak. Kegiatan peluncuran dirangkai pula dengan kegiatan edukasi orang tua ABK dan pemeriksaan kesehatan.

Konsultan sekaligus Sekretaris IDAI NTB, dr Titi Pambudi Karuniawaty, mengapresiasi keberadaan Sahabat Bermain Down Syndrome Lombok. Sejarah terbentuknya komunitas ini menurutnya, berawal dari upaya mempertemukan sesama orang tua anak penyandang Down Sydrome.

Semakin lama, jumlah pesertanya kian bertambah, sehingga terbentuklah wadah komunitas. Peluncuran komunitas ini direncanakan pada tahun 2018 silam. Namun baru bisa direalisasikan pada tahun ini.

“Ide awalnya, hanya mempertemukan orang tua penyandang Down Syndrome. Baik yang memeriksakan anaknya di RSUP NTB, RSUD Kota Mataram, maupun RSIA Permata Hati,” ulasnya.

Dijelaskan bahwa komunitas ini dibentuk untuk dijadikan sebagai wadah saling berbagi semangat, pengalaman, pengasuhan, serta dukungan antar orang tua untuk saling menguatkan.

Komunitas ini juga dibentuk untuk menciptakan tempat atau lingkungan aman dan nyaman bagi anak penyandang Down Syndrom belajar dan berkembang sesuai kemampuan.

Tidak hanya itu. Komunitas ini akan terus membersamai pengembangan kemandirian anak melalui kegiatan-kegiatan motorik sensori anak penyandang Down Syndrome.

“Intinya orang tua nggak merasa sendirian. Terus biar tenaga kesehatan tahu bahwa ada komunitasnya yang membantu. Karena tenaga medis butuh bantuan untuk mensupport anak Down Syndrome di rumah,” terangnya.

Ia menegaskan, anggota komunitas ini tidak sebatas orang tua. Siapapun yang punya perhatian terhadap anak penyandang down Syndrome termasuk keluarga, tetangga, bahkan tenaga medis, bisa bergabung.

“Jadi yang bisa bergabung di komunitas banyak. Makanya namanya komunitas sahabat bermain. Bagi yang nggak punya kolega, boleh bergabung,” terangnya.

Sementara itu, Perwakilan Persatuan Orang Tua Anak Down Syndrome (POTADS) Jogja, dr. Widya Wasityastuti yang hadir sebagai narasumber, menyambut baik kehadiran komunitas Sahabat Bermain Down Syndrome Lombok.

Dibentuknya komunitas ini menurutnya, sebagai langkah awal yang strategis serta menjadi mitra bagi orang tua anak penyandang down sydrome khususnya di Pulau Lombok. Ia menyarankan agar komunitas ini proaktif memperkenalkan diri sekaligus menjalin kolaborasi dengan setiap entitas termasuk pemerintah daerah.

“Kami sangat berharap juga, upaya-upaya itu bisa diterima baik pemerintah daerah untuk memberikan dukungan sekaligus informasi agar mereka lebih berdaya dan berguna. Tentunya bentuk dukungannya banyak,” bebernya.

“Antara lain melibatkan komunitas ini dalam aktivitas pemerintah daerah, khususnya untuk ABK atau difabel. Termasuk yang lebih seperti dukungan pendanaan dan fasilitas agar komunitas memiliki ruang yang lebih luas lagi,” sambungnya.

Komunitas ini ke depannya bisa menjadi jejaring POTADS nasional. Namun tentunya harus memenuhi syarat dan ketentuan pusat. Baik dari struktur, jumlah anggota kecukupan komunitas.

“Tapi ini sebagai awal yang baik. Dan ini harus didukung oleh media massa supaya lingkungan di Lombok tahu komunitas ini. Jika butuh bisa langsung menghubungi mereka,” jelasnya.


Buku Catatan Jadi Pegangan


Selain komunitas baru, para orang tua anak penyandang Down Syndrome juga dibekali Buku Catatan Down Syndrome. Kiki selaku Perwakilan Komunitas tersebut mengapresiasi peluncuran buku ini

Ia menilai, buku catatan sangat membantu dalam memberikan pemahaman dan edukasi, untuk mengenal ciri-ciri atau anak yang mengidap Down Syndrome dengan anak reguler.

“Buku ini inisiasi dr Titi, banyak sekali manfaatnya. Ukuran kepalanya misalnya anak Down Syndrome mikro pali, dari ciri-ciri ukuran kepalanya kecil. Kalau anak reguler dikatakan mikro itu, tapi Down Syndrome dikatakan masih dalam normal,” ungkapnya.

Ke depan, dia berharap, buku tersebut dapat lebih disempurnakan dengan memuat tips parenting dan memuat kurva tersendiri agar bisa digunakan oleh para orang tua anak penyandang Down Syndrome ketika berada di puskemas.(RIN)

Terpopuler

Kilas

Must Read

©2025- All Right Reserved. Designed and Developed by ntbterkini.id