Program TeFa SMKN 1 Praya Tengah Alami Kemajuan yang Signifikan

Siswa SMKN 1 Praya Tengah dari Jurusan bisnis retail (bisnis daring dan Pemasaran) untuk pembelajaran TeFa di Alfamart.

NTBTerkini.id, Loteng-Program Teaching Factory (TeFa) atau Kewirausahaan (KIK) di SMKN 1 Praya Tengah, Lombok Tengah (Loteng),  menunjukkan kemajuan yang signifikan. Kunci keberhasilan implementasi model pembelajaran berbasis produksi ini dinilai terletak pada komitmen penuh dari kepala sekolah (Kepsek) dan integrasi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (IDUKA).

“Tanpa dukungan kepsek program yang menjadi ujung tombak Link and Match ini tidak akan berjalan optimal,” Guru Kewirausahaan SMKN 1 Praya Tengah, Ovi Sofiah, Rabu (03/12/2025).

Dukungan kepsek tertuang jelas dalam Visi sekolah yang menjadikan TeFa/KIK sebagai model pembelajaran wajib. Dukungan tersebut diwujudkan dalam beberapa aspek. Diantaranya alokasi anggaran, peningkatan mutu guru, kemitraan kuat, serta Monitoring dan evaluasi (Monev).

Keterlibatan ini, diperkuat oleh manajemen sekolah yang terdiri dari Wakasek Bidang Humas, yang memegang peran sentral dalam menjalin dan mengelola perjanjian kerja sama dengan 19 IDUKA dan Kepala sekolah juga mendukung kegiatan peningkatan mutu guru, seperti pelatihan/magang di industri.

Sebaliknya, dalam rangka menjamin legalitas dan kelancaran program, SMKN 1 Praya Tengah telah menetapkan sejumlah kebijakan internal. Salah satunya adalah penerbitan surat keputusan (SK) pembentukan TeFa lengkap dengan struktur organisasi serta tupoksi masing-masing jabatan.

“Bagian kurikulum memastikan adanya penyelarasan mata pelajaran KIK di kelas yang terintegrasi langsung dengan kegiatan TeFa,” imbuhnya.

Penyelarasan juga menyentuh aspek materi ajar. Khusus untuk pelajaran produktif, materi yang disampaikan harus relevan dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) standar industri. Proses ini dilakukan melalui diskusi berkala antara sekolah dan pihak industri, dalam rangka penyelarasan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP).

“Kegiatan pembelajaran berbasis proyek di kelas kemudian diimplementasikan pada bisnis center yang terdapat di sekolah,” ujarnya.

Mengingat core sekolah adalah bisnis manajemen, produk yang dihasilkan siswa berfokus pada layanan jasa, seperti layanan perbankan, bisnis retail, dan bisnis digital. “Siswa dalam praktik pembelajarannya sudah menerapkan standar industri,” tegasnya.

Perihal jalinan Kemitraan dengan IDUKA tidak hanya berhenti pada penandatanganan MoU. Pihak industri memiliki peran krusial dalam program TeFa/KIK berupa Validasi Kurikulum, Suplai order, Guru Tamu dan Transfer Budaya, serta Pengawasan Mutu. SMKN 1 Praya Tengah juga memiliki Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) internal, sebagai penjamin mutu siswa.

“Melalui LSP ini, siswa dapat mengikuti Uji Kompetensi Keahlian setiap tahunnya dan memperoleh sertifikat berstandar nasional yang menyatakan mereka layak langsung bekerja di industri,” jelasnya.(FIT)

Terpopuler

Kilas

Must Read

©2025- All Right Reserved. Designed and Developed by ntbterkini.id