FOTO: Siswa siswi SMKN 1 Praya saat praktikum program Kurikulum Industri dan Kewirausahaan (KIK).
NTBTerkini.id, Loteng-SMKN 1 Praya, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), secara serius mengimplementasikan program Kurikulum Kewirausahaan dan Kejuruan (PKK) atau yang kini dikenal sebagai Kurikulum Industri dan Kewirausahaan (KIK).
Dengan mengubah mata pelajaran produktif menjadi kegiatan yang menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Wakil Kepala (Waka) Bidang Kurikulum SMKN 1 Praya, Kuswoyo menuturkan, program ini berawal dari kebutuhan untuk menjadikan mata pelajaran PKK tidak hanya sekadar mata pelajaran reguler. Tetapi sebagai mata pelajaran yang menghasilkan sesuatu yang layak dipasarkan.
“Program KIK/PKK dilaksanakan sejak pergantian kurikulum ke Kurikulum 2013 (K-13, red). Sejak saat itu, kami mulai memikirkan bagaimana mata pelajaran PKK dapat menghasilkan sesuatu, yang nantinya jika layak, bisa dipasarkan,” kata Kuswoyo diruangannya, Selasa (09/12/2025).
Implementasi program ini didukung oleh kurikulum yang lebih fleksibel. Meskipun kegiatan PKK dilaksanakan sesuai jadwal pembelajaran normal, pihak sekolah memberikan dispensasi waktu di luar jam pelajaran bagi siswa yang membutuhkan. Misalnya untuk promosi produk atau menjaga stan penjualan.
“Kurikulum dibuat lebih fleksibel untuk bisa mengakomodir kegiatan tersebut. Kegiatan PKK sebagian besar berupa proyek dua mingguan agar ketersediaan produk tetap berkelanjutan,” ujarnya.
Kuswoyo menekankan, operasional dan kurikulum Teaching Factory (TeFa) di SMKN 1 Praya telah sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Hasil produk dari TeFa dikumpulkan dan dimanfaatkan sesuai dengan standar pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
“SMKN 1 Praya telah ditetapkan sebagai SMK dengan status BLUD sejak 2022, bersama dengan 11 SMK lainnya se-NTB,” ulas Kuswoyo.
Kemitraan Industri Perkuat Budaya Kerja
Untuk memastikan lulusan siap menghadapi dunia kerja, SMKN 1 Praya menjalin kemitraan erat dengan berbagai industri dan dunia kerja (IDUKA). Kerja sama tersebut terutama berfokus pada pembinaan dan pembiasaan budaya kerja siswa di dalam pembelajaran produktif.
Tujuannya agar keterampilan dan perilaku siswa sesuai dengan standar budaya kerja di industri. “Sekolah menjalin kerja sama dengan IDUKA dalam bentuk mendatangkan industri sebagai guru tamu. Mereka memberikan gambaran industri secara utuh kepada siswa yang sedang belajar PKK,” Kuswoyo.
Selain sebagai motivator untuk calon entrepreneur, kemitraan juga mencakup penempatan siswa untuk program Praktik Kerja Industri (Prakerin) yang sesuai dengan bidang keahlian siswa di sekolah.(Fit)
