Berikut foto (Screenshot) video yang memperlihatkan banyak pelajar SD yang mendatangi dapur MBG disebabkan makanan yang ditunggu berjam-jam, tidak kunjung didistribusikan, Sabtu (20/12/2025).
NTBTerkini.id, Lotim- Video yang beredar di sebuah akun media sosial (Medsos) yang memperlihatkan puluhan pelajar SD di Desa Ketapang Raya, Kecamatan Keruak, Lombok Timur (Lotim), mendatangi dapur penyedia Makanan Bergizi Gratis (MBG) viral.
Aksi tersebut dilakukan lantaran makanan yang seharusnya didistribusikan ke mereka belum diterima hingga jam pulang sekolah. Aksi puluhan siswa mendatangi dapur MBG itu diketahui terjadi di wilayah Kedome, Sabtu (20/12/2025).
Video yang berdurasi 59 detik itu memperlihatkan pelajar SD beramai-ramai menggerebek masuk dapur MBG. Mereka terlihat kelelahan akibat menunggu terlalu lama tanpa kepastian pendistribusian makanan.
Warga setempat mengungkapkan bahwa keterlambatan distribusi makanan di wilayah tersebut bukan kali pertama terjadi. Menurutnya, beberapa sekolah kerap mengalami kondisi serupa sehingga para siswa terpaksa mendatangi langsung dapur tempat makanan disiapkan.
“Ini bukan kejadian pertama. Anak-anak sering pulang sekolah belum menerima makanan, akhirnya mereka datang sendiri ke dapur,” ujar warga yang enggan disebutkan namanya.
Peristiwa ini juga memantik kekecewaan warganet. Kritik dan singgungan juga diposting. Karena menganggap peristiwa ini mencerminkan lemahnya manajemen dan pengawasan. Terlebih program ini menyangkut hak dasar anak-anak usia sekolah yang seharusnya mendapatkan pelayanan optimal.
Terpisah Kepala Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG), Ardan, membantah tuduhan yang menyebutkan, keterlambatan distribusi di dapur tersebut kerap terjadi. Diakui bahwa keterlambatan hanya terjadi satu kali dan itupun terkendala masalah kebocoran gas.
Berbeda disampaikan mitra program MBG, Lalu Burhanudin. Menurutnya, pendistribusian makanan diukur dari jarak sekolah dan pihaknya mendahulukan sekolah dengan jarak yang jauh, lalu dilanjutkan ke sekolah dengan jarak yang dekat.
“Total ada 14 sekolah yang kami layani. Sekolah yang jaraknya dekat memang kami distribusikan terakhir, karena yang jauh didahulukan,” jelasnya. (EN)
