(Dari kanan) Kepala Rumah Sakit (Karumkit) RSAD Wira Bhakti Mataram, dr. Sahat Ericson Tampubolon., Sp.,PD.,M.A.R.S., dengan background para perawat yang menjaga keponakan H. Bambang Muntoyo (HBM).
NTBTerkini.id, Mataram- Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) Wira Bhakti Mataram kian dielu-elukan para pasien umum, khususnya yang berdomisili di seputaran wilayah Kota Mataram. Berbagai pujian terlontar dari keluarga pasien yang salah satunya, H Bambang Muntoyo.
Pengusaha sekaligus Ketua Umum DPD Gabungan Perusahaan Konstruksi Nasional Indonesia (GAPEKSINDO) NTB ini mengaku, menyaksikan dan mendengar langsung pengakuan keponakannya saat dirawat di RSAD Wira Bhakti Mataram.
Selain kelengkapan obat-obatan, petugas medisnya selalu respon cepat, ramah, dan sabar dalam menyampaikan penjelasan kepada pasien.
“Itu padahal ada ibu-ibu yang ngomel di rumah sakit, tapi perawatnya tetap sabar mendengarkan dan memberikan penjelasan,” puji HMB, sapaan akrabnya, Senin (24/11/2025).
Diakui HBM, keponakannya tersebut diminta untuk rawat inap selama tiga hari. Selama menginap di rumah sakit ini, serasa berada di rumah sendiri. Sebab, selain ramah dalam memberikan pelayanan, para perawat selalu membalas apa yang menjadi permintaan pasiennya dengan tutur kata yang halus dan sopan.
“Jadi ponaan saya merasa aman, nyaman, dan betah dirawat inap di rumah sakit ini,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Rumah Sakit (Karumkit) RSAD Wira Bhakti Mataram, dr. Sahat Ericson Tampubolon., Sp.,PD.,M.A.R.S., mengaku, RSAD Wira Bhakti Mataram saat ini, statusnya masih tipe-D.
Kendati demikian, pihak rumah sakit tidak menonjolkan fasilitas dan kapasitas. Fokus pelayanan rumah sakit ini dititik beratkan terhadap hubungan dan empati antara tenaga medis dan pasien.
Layanan ini, menurutnya, melampaui penanganan fisik. Hal ini selaras dengan Jargon RSAD Wira Bhakti, yaitu Senyum Sapa, Salam, Sopan, simpati (5-S).
“Saya bilang ke teman-teman, target kita berbeda dengan rumah sakit lain. Kalau yang lain mungkin akan berlomba-lomba meningkatkan bangunan dan fasilitasnya yang disesuaikan dengan aturan BPJS nya.
Layanan Ini melibatkan pemahaman tentang kebutuhan emosional pasien, mendengarkan aktif, memberikan dukungan psikologis, dan memastikan pasien merasa dihargai, dimengerti.
Layanan ini pun membentuk sugesti positif dan mendorong semangat pasien untuk sembuh. Jika hal ini dilupakan, maka akan berpengaruh terhadap kesembuhan pasien.
“Yang nggak kalah penting dan sering dilupakan adalah pelayanan perawat dan dokter, ke pasiennya. Itu yang sebenarnya pelayanan yang harus diutamakan. Untuk apa bangunan bagus, fasilitas lengkap, tapi kedekatan pasiennya nggak ada,” timpalnya.
“Mungkin kalau pasien minta tolong, responnya lamban, jawabnya ketus atau nada tinggi Itu kan sangat berpengaruh kepada kesembuhan pasien,” sambungnya
Tidak hanya itu. RSAD Wira Bhakti juga mengedepankan kepedulian sosial terhadap pasien, kendati di rumah sakit ini sudah menerapkan pemberlakukan kelas rawat inap (KRIS). Hal ini menimbulkan rasa betah dan menganggap rumah sakit ini layaknya rumah sendiri.
“Saya juga sering mentestimoni pasien, menanyakan apa sebab pasien masih betah. Mereka menjawab, walaupun rumah sakit yang terbatas, mereka nyaman, bersih, tenaga medisnya tanggap dan ramah-ramah,” ulasnya.
“Mereka juga mengatakan bahwa di rumah sakit ini obatnya lengkap, walaupun rumah sakitnya kecil. Jadi kami tidak perlu membeli obat-obatan di luar rumah sakit ini. Rumah sakit ini juga serasa rumah sendiri, kita dianggap keluarga, bukan dianggap orang lain,” sambungnya.
Berkat layanan ini, persentase peningkatan jumlah pasien dari tahun ke tahun cukup signifikan. Tahun ini, per bulan September, jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit ini mencapai 65 persen sampai 70 persen.
Soal ketersediaan tenaga medis, RSAD Wira Bhakti memiliki 19 dokter spesialis. Diantaranya dokter spesialis anak, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis jantung, dokter bedah umum, dokter spesialis saraf, dan dokter spesialis bedah ortopedi.
Kemudian dokter spesialis mata, rehab medik, dokter spesialis objin, dan yang akan bergabung dalam waktu dekat ini, dokter spesialis urologi. Ketersediaan tenaga medis ini diimbangi oleh peralatan medis yang lengkap.
“Sekelas rumah sakit kami, itu sudah bagus dan terpenuhi untuk melayani pasien umum,” jaminnya.
Ke depan, pihaknya menargetkan penambahan bangunan yang akan dimanfaatkan sebagai kamar dan penambahan tempat tidur pasien. Capaian ini sebagai syarat meningkatkan pelayanan dan untuk bisa naik ke Tipe-C.
“Lahan kami memang terbatas. Tapi dilihat grand designnya sudah bisa, untuk naik layanannya ke Tipe-C. Dari yang awalnya 50 bed ke 58 bed, dan bisa naik ke 100 bed. Sehingga bisa menampung pasien umum dan prajurit kita,’ jelasnya.(RIN)
