FOTO: Aksi Demo Warga Poton Bako di Ekowisata Bale Mangrove Ekowisata Bale Mangrove Teluk Jor, Desa Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Sabtu (03/01), dipicu ketidaktransparanan serta pengusiran terhadap pedagang lokal.
Lotim – Puluhan warga Poton Bako menggelar aksi unjuk rasa di Ekowisata Bale Mangrove Ekowisata Bale Mangrove Teluk Jor, Desa Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Sabtu (03/01). Aksi itu dipicu kekecewaan warga terhadap pola pengelolaan ekowisata bale mangrove yang dinilai tidak adil, tertutup, dan bersifat eksklusif.
Warga menuding, pihak pengelola kerap mengusir pedagang lokal serta melarang masyarakat umum menjajakan dagangan di kawasan wisata. Ironisnya, aktivitas jual beli justru hanya diperbolehkan bagi pihak keluarga pengelola.
“Seolah-olah Ekowisata bale mangrove ini milik pribadi atau milik keluarga tertentu saja. Kami warga sekitar justru disingkirkan,” geram massa aksi.
Situasi sempat memanas dan nyaris berujung kericuhan. Aparat desa bersama tokoh masyarakat turun tangan untuk menenangkan massa dan meredam ketegangan.
“Selama ini pengelolaan Ekowisata Bale Mangrove Teluk Jor berjalan secara tertutup dan terkesan dikuasai satu keluarga. Kami tidak boleh berdagang di sini. Katanya sudah diatur oleh keluarga mereka. Seperti membangun dinasti,” kesal masa aksi.
Aksi ini pun Kepala Desa (Kades) Jerowaru, Muhammad Nasrudin, mengambil langkah tegas, menutup sementara Ekowisata Bale Mangrove Teluk Jor. Penutupan dilakukan guna meredam konflik sekaligus membuka ruang evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan.
“Untuk sementara bale mangrove kita tutup. Selanjutnya akan kita koordinasikan dengan tokoh-tokoh masyarakat untuk mencari solusi terbaik. Aset Ekowisata Bale Mangrove ini sangat bermanfaat dan harus dikelola secara adil,” tegas Nasrudin.
Ia kembali menegaskan, ke depan tata kelola Bale Mangrove akan diperbaiki dan tidak lagi dijalankan seperti sebelumnya. Pemdes berkomitmen menjadikan kawasan mangrove sebagai aset bersama masyarakat Poton Bako, bukan milik kelompok tertentu.
“Kami minta masyarakat tetap menjaga aset mangrove ini. Bagaimanapun ini aset bersama yang sudah berjalan dan harus kita kembangkan untuk kesejahteraan warga,” ujarnya.
Nasrudin juga berharap seluruh pedagang nantinya dapat berjualan di kawasan wisata mangrove dengan penataan yang tertib dan adil.
“Semua pedagang akan diberi ruang. Kita tata tempatnya agar ekonomi masyarakat bisa berjalan. Kalau solusinya memang harus mengganti pengurus, maka itu akan kita lakukan,”tandasnya.(EN)
