Waka Humas SMKN 1 Selong, Abdul Basir, tengah bersama karyawannya di dapur 2 Kecamatan Aikmel, Lombok Timur (Lotim).
NTBTerkini.id, Lotim- Puncak Hari Ulang Tahun (HUT) NTB yang ke-67, Rabu (17/12/2025) di Lapangan IPDN Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), dirayakan semarak dan penuh kesan. Sejumlah ASN pun tidak luput dari penghargaan dengan berbagai katagori.
Namun ada prestasi seseorang yang belum terdeteksi dalam perhelatan hari jadi tersebut. Dia adalah Abdul Basir. Sosok guru yang mendapatkan tugas tambahan sebagai Wakil Kepala (Waka) Humas SMKN 1 Selong, Lombok Timur (Lotim) ini, memiliki prestasi yang membanggakan.
Prestasi ini berawal dari adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pusat. Melihat adanya peluang, Abdul Basir, berhasil menginisiasi dan membangun dua dapur MBG untuk melayani ribuan penerima manfaat.
Keberhasilan Basir ini menjadikannya salah satu sosok inspiratif dari kalangan pendidik yang terjun langsung dalam penguatan gizi masyarakat. “Lokasi kedua dapurnya di Kecamatan Aikmel,” imbuh Abdul Basir, di sela-sela kesibukannya menghadiri puncak perayaan HUT NTB.
Basir menjelaskan, dapur pertama telah beroperasi sejak Februari 2025. Fasilitas ini didukung oleh 50 karyawan dan mampu menyuplai makanan untuk 4.000 penerima manfaat. “Penerima manfaatnya mulai dari tingkat TK, PAUD, hingga SMA, baik sekolah negeri maupun swasta, termasuk pondok pesantren,” sebutnya.
Melihat tingginya kebutuhan, Basir langas mengoperasikan dapur kedua seminggu terakhir. Dapur baru ini mempekerjakan 30 karyawan untuk melayani 1.800 penerima manfaat yang tidak hanya terdiri dari pelajar. Program ini kini diperluas untuk kelompok ibu hamil (Bumil), ibu menyusui, dan bayi di bawah usia dua tahun (B3).
Soal pengelolaan dapur MBG, Basir mengaku mengikuti standar anggaran nasional sebesar Rp15 ribu per porsi (ompreng). Basir merincikan alokasi dana tersebut secara transparan guna menjaga keberlangsungan program selama 10 bulan terakhir.
“Untuk setiap porsi, Rp10 ribu dialokasikan untuk bahan baku, Rp3 ribu untuk biaya operasional, dan Rp2 ribu untuk gaji karyawan,” rincinya.
Dengan manajemen yang tertata, program ini tidak hanya memberikan asupan gizi yang layak bagi masyarakat, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar di tengah tantangan ekonomi.
Sebaliknya, keberhasilannya di kecamatan Aikmel membuat Basir optimistis untuk memperluas jangkauan program ini ke wilayah lain. Ia melihat masih banyak area yang jauh dari akses dapur pusat, sehingga membutuhkan unit dapur satelit.
“Jika ada lokasi yang pas dan sekolah-sekolah jauh dari lokasi dapur yang ada sekarang, kami berencana untuk membangun lagi. Misalkan di Kabupaten Sumbawa atau lokasi lain di luar Lotim,” pungkas Basir.
Langkah Abdul Basir ini diharapkan menjadi pemantik bagi tenaga pendidik lainnya di NTB untuk berkontribusi dalam kesuksesan program prioritas nasional, khususnya di sektor kesehatan dan pendidikan.(FIT)
