FOTO: Kepala SMKN 1 Gangga H. L Rodi Karyawan di dampingi Wakahumas SMKN 1 Gangga M. Takdir Akbari Putra dengan mesin pengering coklat buatan siswa SMKN 1 Gangga dalam PJBL.
NTBTerkini.id, Mataram- SMKN 1 Gangga di Kabupaten Lombok Utara (KLU) turut serta menyemarakkan pameran Expo Inovasi Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) NTB dalam rangkaian peringatan HUT NTB ke-67.
Sekolah kejuruan ini memamerkan inovasi unggulan mereka, sebuah alat pengering biji kakao canggih yang dinamakan Mesin Hybrid Pintar Bertenaga Matahari dan Listrik Suntik Pengering Biji Kakao atau dikenal sebagai Smart Cocoa Dryer.
Inovasi ini lahir sebagai respons atas potensi besar KLU sebagai penghasil kakao terbesar di NTB.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2020, KLU telah ditetapkan sebagai daerah penyangga kebutuhan kakao nasional. Dengan luas area mencapai 8.008 hektare dan hasil produksi 2.219 ton pada 2019.
Kepala SMKN 1 Gangga, H. Lalu Rodi Karyawan menjelaskan, mesin ini merupakan hasil dari Program Project Based Learning (PjBL) yang dikerjakan oleh para siswa bersama guru pembimbing, M. Takdir Akbari Putra. Tujuannya adalah untuk mempermudah petani dan pengusaha cokelat di daerah tersebut.
“Proses pengeringan kakao secara manual memerlukan waktu 3 hingga 4 hari pada intensitas matahari yang cukup. Bahkan, saat musim penghujan, prosesnya bisa jauh lebih lama. Namun, dengan Mesin Pengering Kakao Hybrid ini, proses pengeringan dapat dipercepat hanya dalam waktu kurang dari 7 jam,” tutur Kasek di sela-sela kegiatan tersebut, Selasa (16/12/2025).
Inovasi ini tidak hanya memangkas waktu pengeringan secara signifikan—dari 3-4 hari menjadi kurang dari 7 jam. Tetapi juga menjaga dan meningkatkan kualitas biji kakao.
Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa hasil pengeringan biji kakao menggunakan mesin ini mampu mencapai kadar air di bawah 7,5 persen sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 2323:2008/Amd1:2010.
“Alat ini dapat meningkatkan produktivitas hasil panen petani, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Selain itu, mesin ini ramah teknologi dan cukup murah dalam biaya operasional karena mampu menghemat daya listrik saat siang hari. Serta mengurangi ketergantungan penuh pada sinar matahari,” terangnya.
Mesin ini dirancang dengan kapasitas 22 kilogram, daya kerja 930 Watt per jam, dan sumber listrik AC. Biaya operasional per 7 jam kerja diperkirakan hanya sebesar Rp 9.400,-.
Fitur canggih lainnya mencakup penggunaan Solar Oven dan elemen pemanas sebagai sumber panas beserta sensor suhu untuk menjaga suhu pengeringan antara 70°C – 75°C, dilengkapi pula Lampu UV Tipe C, serta layar sentuh LCD 3,4 inchi.
Ini sebagai display yang dapat menunjukan suhu kerja mesin, kelembaban, intensitas cahaya, penggunaan daya listrik beserta biaya listrik PLN selama penggunaan mesin dalam keadaan aktif. Ia menegaskan, inovasi Smart Cocoa Dryer ini sejalan dengan program pemerintah.
“Melalui alat ini, kami mendukung program pemerintah daerah, yaitu NTB Makmur Mendunia dalam Industrialisasi Bidang Pertanian, serta mendukung Program Pemerintah Pusat dalam bidang ketahanan energi melalui penggunaan teknologi hemat energi,” jelasnya.
Mesin ini juga dirancang agar terkoneksi dengan aplikasi di ponsel pintar (OS Android) melalui jaringan internet seluler (IoT). Dari sisi keandalan, pengeringan dengan mesin ini telah melewati uji coba hingga 500 jam kerja.
Sekaligus memiliki pengaturan suhu dan waktu kerja, serta dilengkapi sistem pengaman kelistrikan, memastikannya dapat beroperasi optimal bahkan tanpa sinar matahari langsung.(Fit)
