
Plt. Kepala SMKN 1 Lingsar, Sujisman Hadi saat ditemui media diruang kerjanya, Sabtu, (15/11).
NTB Terkini.id, Lobar — Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Lingsar kian serius memperkuat kerja sama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (IDUKA) melalui serangkaian langkah konkret. Upaya ini dilakukan untuk memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan dan siap terserap di dunia kerja.
Plt. Kepala SMKN 1 Lingsar, Sujisman Hadi, menyampaikan bahwa penguatan program link and match dengan industri merupakan prioritas utama. “Ada beberapa langkah konkret yang telah dan akan kami lakukan untuk menguatkan kerja sama dengan IDUKA,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (15/11).
Enam Strategi Menjemput Kualitas Lulusan
Sujisman merinci enam strategi utama yang diterapkan SMKN 1 Lingsar dalam menggenjot kerja sama dengan IDUKA:
1. Kunjungan Industri: Melakukan kunjungan industri bagi guru dan siswa untuk melihat langsung praktik kerja terbaik.
2. Guru Tamu: Melaksanakan program guru tamu dengan menghadirkan praktisi ahli dari industri.
3. Dari segi Penyelarasan Kurikulum: Bersama industri, sekolah melakukan penyelarasan kurikulum agar materi ajar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
4. Magang Guru: Melaksanakan program magang bagi guru (Guru Magang) untuk meningkatkan kompetensi dan pengalaman praktis.
5. Keterlibatan Inovasi: Menggandeng IDUKA dalam kegiatan Teaching Factory (TeFa) atau pengembangan inovasi bersama.
6. Penyaluran dan Keterlibatan: Melaksanakan job fair dan education fair, serta mengundang IDUKA untuk terlibat aktif.
Sujisman menambahkan, saat ini jumlah Iduka yang sudah bekerjasama dengan SMKN 1 Lingsar lebih dari 160 tempat yang tersebar di wilayah NTB atau luar daerah, seperti Bandung, Surabaya, Bali maupun Jakarta.
Tantangan Klasik di Lapangan: Disiplin dan Birokrasi
Meskipun memiliki peta jalan yang jelas, Sujisman tidak menampik adanya hambatan yang menguji implementasi program link and match yang efektif. Tantangan tersebut berputar pada tiga poros utama: siswa, guru, dan fleksibilitas kurikulum.
“Pada saat siswa magang, ada saja yang kurang disiplin, malas, dan kurang jujur. Tidak mentaati Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan oleh industri, sehingga IDUKA menjadi kurang percaya,” keluh Sujisman. Isu kedisiplinan dan integritas siswa menjadi faktor kritis yang kerap mereduksi kepercayaan industri terhadap lulusan vokasi.
Di sisi guru, kendala utama dalam program magang guru adalah penyesuaian waktu dan keterbatasan anggaran operasional. Sementara itu, upaya penyelarasan kurikulum juga terbentur pada rigida kerangka kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat, menuntut solusi yang lebih adaptif.
Terlepas dari hambatan tersebut, SMKN 1 Lingsar terus berupaya meningkatkan kompetensi tenaga pengajar. “Saat ini kami telah mengundang guru SMKN 1 Lingsar dalam program upskilling guru kejuruan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan skill kompetensi yang dimiliki guru sesuai standar industri,” pungkasnya.
Program upskilling ini diharapkan dapat menjadi saluran efektif transfer ilmu dan teknologi terkini dari industri ke sekolah, yang pada akhirnya akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas pengajaran dan daya serap lulusan SMKN 1 Lingsar di pasar kerja.
