FOTO: Para siswa dan siswi SMKN 1 Kuripan tengah mengikuti program guru tamu dari industri.(ist)
Lobar– Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMKN 1 Kuripan, Muhamad Sumarlin, mengungkapkan adanya perubahan signifikan pada kompetensi siswa sejak sekolah intensif menjalankan program Guru Tamu dari berbagai sektor industri.
Program ini dinilai berhasil mengubah paradigma siswa dari sekedar mengerjakan tugas sekolah menjadi simulasi dunia kerja yang nyata. Sumarlin menjelaskan bahwa dampak yang paling terasa adalah pergeseran kesiapan mental atau Work Attitude.
Para siswa kini mulai terbiasa dengan standar ketat industri. Mulai dari disiplin waktu, ketelitian, hingga budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
“Banyak siswa yang awalnya ragu tampil atau takut salah, kini lebih percaya diri. Mereka belajar langsung dari pelaku usaha yang setiap hari menghadapi tuntutan pasar. Dampaknya, siswa punya mental siap diuji dan memiliki growth mindset,” ujar Sumarlin, Selasa (13/01).
Tak hanya mental, kehadiran praktisi industri ke sekolah berfungsi sebagai katalisator pembaruan kurikulum. Ia mengklaim, kurikulum sekolah kini menjadi lebih hidup. Karena tidak lagi hanya mengacu pada dokumen statis, melainkan pada realitas teknologi dan kebutuhan lapangan kerja terbaru.
Pada Kompetensi Keahlian Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP), misalnya, sekolah menggandeng UD Roti Sukses, UD Sasak Maiq, dan AA Bakery Praya. Para mitra ini memberikan masukan konkret pada aspek manajemen produksi, efisiensi, inovasi pengemasan, hingga strategi penentuan harga berdasarkan selera konsumen.
Sementara untuk bidang Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH), keterlibatan raksasa perbenihan PT Bisi International Tbk dan Jafri Farm membantu sekolah menerapkan praktik budidaya presisi.
“Siswa belajar teknik pemilihan varietas, pemupukan yang akurat, hingga pencatatan logbook budidaya sebagai dasar evaluasi produksi,”terangnya.
Di sektor peternakan, melalui program Agribisnis Ternak Unggas (ATU), kerja sama dengan PT Baling-baling Bambu serta Dinas Pertanian dan Kesehatan Hewan, memastikan siswa memahami regulasi biosekuriti dan kesejahteraan hewan yang ketat.
Sumarlin mencatat, terdapat empat sektor industri lokal yang paling aktif mengirimkan tenaga ahlinya ke SMKN 1 Kuripan. Pertama, ‌Industri Pengolahan Pangan dan Bakery. Sektor ini yang paling adaptif dalam mengimplementasikan konsep Teaching Factory (TeFa), guna menghasilkan produk bernilai jual.
Kedua, ‌Pengolahan Hasil Perikanan. UD Sasak Maiq menjadi mitra strategis dalam penguatan komoditas unggulan NTB, yakni rumput laut. Ketiga, ‌Perbenihan dan Hortikultura. PT Bisi International Tbk membawa standar industri perbenihan yang sistematis ke ruang kelas.
Ke empat, ‌Peternakan Broiler. Sinergi antara swasta dan pemerintah daerah dalam hal memastikan standar kesehatan hewan dan regulasi pangan.
“Perubahan signifikan yang terlihat adalah siswa semakin siap kerja secara mental, dan keterampilan teknisnya naik kelas, karena mengikuti standar praktik nyata, bukan sekadar praktik sekolah,” jelas Sumarlin.
Dengan penguatan sinergi ini, SMKN 1 Kuripan optimistis lulusannya tidak hanya akan menjadi tenaga kerja yang terampil secara teknis (Hard Skills), tetapi juga unggul dalam kerja tim dan komunikasi profesional (Soft Skills).(FIT)
