Kepala SDN 1 Batu Nampar Selatan, H. Wahid, bersama Polmas Desa Batu Nampar Selatan, Ade Hukum WK, Komite Sekolah, Bukhari Ibrahim,Kanit UPTD Kecamatan Jerowaru, L. Sri Gede Kadindi, S.Pd., saat mendamaikan kedua keluarga pelajar, Senin (24/11/2025).
NTBTerkini.id, Lotim- Sebuah video berdurasi 1 menit 43 detik sempat tayang di media sosial (Medsos). Video itu memperlihatkan seorang anak mengalami aksi kontak fisik yang dilakukan temannya. Video diunggah oleh akun Facebook Algazefa, Sabtu pekan kemarin dan memantik atensi publik.
Belakangan diketahui, anak yang ada rekaman video merupakan pelajar SDN 1 Batu Nampar Selatan, Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Peristiwanya pun berlangsung di halaman sekolah tersebut. Namun video itu kembali ditarik pemilik akun.
Gegara video yang berdurasi pendek ini pula, UPTD Kecamatan Jerowaru, hingga Polmas Desa Batu Nampar Selatan turun tangan. Penelusuran cepat dilakukan. Usai pemanggilan orang tua para pelajar di rekaman video, Senin (24/11/2025), terkuaklah fakta.
Ditemui diruangannya, Kepala SDN 1 Batu Nampar Selatan, H. Wahid mengungkapkan, Aksi para pelajar itu bukanlah perundungan murni. Dua pelajar yang terlibat kontak fisik di video itu ternyata masih satu keluarga, dan pertengkaran semacam itu bukan hal baru bagi mereka. Kejadian bermula saat salah satu pelajar memecahkan genteng atap sekolah.
Perbuatannya itu dipergoki oleh pelajar yang mengalami kontak fisik. Khawatir dilaporkan ke pihak sekolah, rekannya yang lain lantas mengancam dengan kalimat, ‘Awas kalau cerita sama Pak Guru’.
“Detik berikutnya, terjadilah kontak fisik itu,” ulas Kepsek.
Diakui Kepsek, peristiwa itu terjadi ketika dirinya sedang mengikuti kegiatan jalan sehat di Selong, sementara sejumlah guru berada di ruang guru tengah fokus mengisi sulinjar.
“Kami selama ini selalu melakukan pembinaan karakter. Tapi kejadian ini menjadi pelajaran keras bagi kami untuk lebih memperketat pengawasan,” sesal dia.
Upaya mediasi pihak keluarga sempat tegang, namun berakhir damai. Kedua pihak sepakat menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Di sisi lain, pemilik akun Algazefa juga mengaku menarik video di medsos, karena tidak ingin memperkeruh keadaan.
“Saya hapus setelah tahu mereka masih keluarga dan sudah berdamai,” ujarnya kepada media ini melalui pesan pribadi.
Komite Sekolah, Bukhari Ibrahim, menilai bahwa peristiwa pelajar ini merupakan insiden sekaligus menjadi alarm pihak sekolah agar ke depannya lebih ketat dalam melakukan pengawasan. Meski di jam-jam senggang.
“Meski persoalan keluarga, kejadian ini tetap harus menjadi evaluasi besar. Sekolah harus benar-benar memastikan lingkungan belajar aman,” tegasnya.
Sedangkan Kanit UPTD Kecamatan Jerowaru, L. Sri Gede Kadindi, S.Pd., berpesan, untuk menangkal hal-hal yang tidak diinginkan, komunikasi antara guru, orang tua, dan siswa harus terus diperkuat.
“Gesekan sekecil apa pun harus cepat ditangani. Pendidikan karakter bukan sekadar formalitas, ini kebutuhan,” ujarnya.
Polmas Desa Batu Nampar Selatan, Ade Hukum WK, memastikan kasus ini tidak bergulir ke ranah hukum. “Keduanya masih keluarga dekat dan sepakat damai. Kami harap masyarakat tidak mudah terpancing oleh video yang beredar,” imbaunya. (ENAL)
