Salah satu Siswa SMKN 3 Selong, tengah melaksanakan servis kendaraan bagian dari program Teaching Factory (TeFa).
NTBTerkini.id, Lotim- SMKN 3 Selong, Lombok Timur (Lotim) secara konsisten menerapkan program Teaching Factory (TeFa) sejak 2023. Program ini didorong sebagai upaya menjembatani langsung kompetensi siswa dengan kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), melalui praktik kerja nyata di lingkungan sekolah.
Wakil Kepala (Waka) Bidang Humas, Muhammad Juaini mengungkapkan, inisiasi TeFa ini bermula dari dukungan Pemerintah melalui program SMK Pusat Keunggulan (PK) Skema Reguler 1 Tahun 2023. Yang mencakup bantuan pembangunan fasilitas, peralatan, dan asistensi teknis pelaksanaan.
“Sejak 2023, Program Keahlian Teknik Otomotif kami jadikan pilot proyek. Model TeFa yang kami terapkan adalah TeFa Kolaborasi Industri dan TeFa Simulasi Proses Kerja,” ujar Juaini, Sabtu (06/12/2025).
Dalam pelaksanaannya, Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan berkolaborasi dengan diler resmi. Seperti PT Suzuki Cakra Mobilindo Lotim dan PT Berlian Cahaya Bima Mitsubishi Mataram. Sementara itu, Kompetensi Teknik Sepeda Motor menjalin kerja sama dengan PT Astra Honda Motor NTB.
Tiga Pilar Utama TeFa di SMKN 3 Selong
Juaini menyebutkan, Keberhasilan TeFa di SMKN 3 Selong didukung oleh tiga pilar utama yang memastikan program berjalan berkelanjutan, dan selaras dengan standar industri.
Pertama, Komitmen dan Dukungan Pimpinan. Kepala SMKN 3 Selong, menurutnya, telah menunjukkan komitmen kuat dengan menjadikan TeFa sebagai program unggulan sekolah vokasi. Dukungan diwujudkan dalam bentuk kebijakan, alokasi anggaran, dan penyediaan fasilitas.
Dukungan juga mencakup dorongan bagi guru produktif untuk mengembangkan modul TeFa, serta perluasan kerja sama dengan DUDI agar TeFa menjadi jembatan langsung siswa menuju dunia kerja.
Kedua, Kebijakan Internal dan Integrasi Kurikulum. Untuk memastikan operasional berjalan baik, lanjut Juaini, sekolah mengeluarkan regulasi internal. Seperti Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Keputusan Kepala Sekolah, yang mengatur jadwal, pembagian tugas, hingga mekanisme evaluasi TeFa.
Kurikulum TeFa diintegrasikan secara penuh melalui Project-Based Learning (PJBL) dan Problem-Based Learning (PBL). Siswa tidak hanya mengerjakan proyek sesuai standar industri tetapi juga memberikan layanan jasa perbaikan kendaraan. Termasuk pemecahan masalah keluhan pelanggan.
“Bahkan, ada kolaborasi lintas mata pelajaran produktif. Misalnya, Kompetensi Keahlian Teknik Audio Video (TAV,red) mengerjakan proyek pembuatan dan pemasangan audio mobil untuk mendukung TeFa Otomotif,” beber Juaini.
Terakhir, Peran Vital Mitra Industri
Mitra industri dalam mengambil peran sentral, sebagai penentu standar mutu dan spesifikasi kerja yang wajib dipenuhi siswa. Mereka juga bertindak sebagai klien nyata dari produk atau jasa yang dihasilkan TeFa.
Kerja sama ini mencakup pemberian bimbingan teknis, pelatihan, sertifikasi bagi guru dan siswa, serta membuka peluang magang (PKL) dan rekrutmen bagi alumni.
“Dengan skema kolaborasi dan simulasi ini, SMKN 3 Selong berupaya menghasilkan lulusan yang tidak hanya terampil secara teori, tetapi juga siap kerja dengan etos dan standar profesional industri,” jelasnya.(Fit)
