FOTO: Ilustrasi.
NtbTerkini.id, Lotim – Rencana Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Timur (Lotim) menyalurkan gas LPG (Elpiji) bersubsidi dengan skema desil menuai sorotan dari sejumlah Kepala Wilayah (Kawil).
Mereka menilai, penggunaan data desil sebagai acuan utama berpotensi memicu kekacauan distribusi dan salah sasaran di tingkat masyarakat.
Kawil di Desa Anjani, Kecamatan Suralaga mengungkapkan, data desil yang saat ini digunakan masih tumpang tindih dan belum mencerminkan kondisi riil warga.
Ia mengklaim, persoalan serupa hampir terjadi di seluruh desa di Lotim.
“Kalau desil dijadikan acuan utama, ini sangat berpotensi rancu. Banyak data yang tidak sinkron dengan kondisi sebenarnya di masyarakat,” ujar Kawil Syarif Hidayatullah, Selasa (14/04).
Ia menilai, kebijakan tersebut berisiko menciptakan ketidakadilan dalam penyaluran LPG subsidi. Terutama bagi warga yang benar-benar membutuhkan, namun tidak terakomodasi dalam kategori desil yang tepat.
Menurut dia, penentuan penerima bantuan seharusnya tidak semata mengandalkan data statistik. Pemerintah desa (Kawil_Red) harus dilibatkan secara aktif, karena lebih memahami kondisi sosial ekonomi warganya.
“Berikan desa ruang untuk menentukan. Kami yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, jadi lebih tahu siapa yang benar-benar berhak,” tegasnya.
Selain itu, mereka mendorong agar proses pendistribusian turut dikawal oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan aparat kepolisian guna menjamin transparansi dan akuntabilitas.
Sorotan juga muncul terkait adanya ketidaksesuaian mencolok antara data desil dan fakta di lapangan.
Pihaknya menemukan sejumlah kasus di mana warga yang tergolong mampu, justru masuk kategori desil rendah (1–5). Sementara yang kurang mampu berada di desil tinggi (6–10).
Kondisi tersebut dinilai sangat berisiko terhadap ketepatan sasaran distribusi LPG bersubsidi, terlebih di tengah situasi kelangkaan yang masih dirasakan masyarakat.
“Kami khawatir distribusi tersebut tidak tepat sasaran. Karena data desil ini banyak yang terbalik dengan fakta di lapangan. Ini yang menjadi kegelisahan kami,” pungkasnya.(EN)
