APRI Sumbawa Berduka, Desak Tambang Diduga Ilegal di Lantung Segera Ditutup

FOTO: DPC Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Kabupaten Sumbawa.

NTBTerkini.id, Sumbawa– Ketua DPC Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Kabupaten Sumbawa, Muhammad Ansari, SH., atau akrab disapa Bang Ansor, menyampaikan belasungkawa atas tewas korban dalam aktivitas pertambangan yang diduga ilegal di Kecamatan Lantung.

Bang Ansor mendesak Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa segera turun tangan, menghentikan dan menutup aktivitas pertambangan tersebut apabila terbukti tidak memiliki izin yang sah (Ilegal).

“Jangan sampai korban kembali berjatuhan. Pemerintah harus segera turun dan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Jika terbukti ilegal, tutup dan tindak seluruh pihak yang terlibat, bukan hanya pekerja di lapangan,” tegasnya.

APRI, diakui Bang Ansor, telah melakukan investigasi ke lokasi dan menemukan sedikitnya dua area aktivitas pertambangan, yakni Lawang Tua dan Mako. Pihaknya juga menemukan puluhan tenaga kerja asing (TKA) yang diduga berasal dari China.

Bang Ansor mengaku semakin prihatin karena aktivitas tersebut dinilai berlangsung secara masif dan terstruktur. Pihaknya bahkan menduga terdapat empat mata rantai yang membuat kegiatan tersebut tetap berjalan.

Yakni oknum pejabat di lingkungan Polda, pemilik lahan, penyokong dana atau donatur, serta pihak yang diduga berperan sebagai pengaman atau kartel.

Ia menyebut nama berinisial A, ME dan E yang menurut informasi yang diterima APRI diduga berkaitan dengan jaringan pengamanan tersebut.

“Kami meminta dugaan ini dibuktikan melalui penyelidikan yang transparan dan profesional. Jika benar ada oknum aparat, pemilik lahan, pemodal maupun jaringan pengamanan yang terlibat, semuanya harus diproses sesuai hukum. Jangan hanya pekerja di lapangan yang ditindak,”ujar Bang Ansor.

APRI juga menuntut pemerintah dan aparat penegak hukum mengusut legalitas tambang, pemilik dan pengelola, sumber pendanaan, penggunaan alat berat, keberadaan TKA, serta dugaan keterlibatan pihak-pihak yang memberikan perlindungan terhadap aktivitas tersebut.

“Kalau kegiatan ini benar ilegal dan bisa berlangsung secara masif, tentu ada pertanyaan besar: siapa yang membiayai, siapa yang mengelola dan siapa yang mengamankan? Kami meminta semuanya dibongkar. Jangan tunggu korban berikutnya.” tegasnya.

Bang Ansor berharap tragedi di Lantung menjadi momentum untuk menghentikan praktik pertambangan ilegal dan memastikan penegakan hukum berjalan tanpa pandang bulu.

“Nyawa manusia jangan menjadi harga dari pembiaran. Pemerintah harus hadir, tegas, transparan dan tidak tebang pilih,” pungkasnya.(RED)

Terpopuler

Kilas

Must Read

©2025- All Right Reserved. Designed and Developed by ntbterkini.id