FOTO: Ramdah M. Radjab.
NTBTerkini.id, Loteng– Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok hari ini berdiri megah di Lombok Tengah (Loteng), dengan predikat akreditasi unggul dan standar ISO internasional yang diakui dunia.
Namun, di balik dinding-dinding beton dan sistem pendidikan kelas dunia tersebut, tersimpan kisah Ramdah M. Radjab, sosok yang membidani lahirnya kampus ini dari nol, namun kini dijadikan seperti pahlawan yang terlupakan.
Pada momen hari kemerdekaan HUT RI Ke-81 tahun 2026 ini, Ramdah menceritakan perjalanannya yang penuh liku saat pertama kali bergabung hingga menjabat sebagai Kaprodi Tata Hidang (2019 – 2023), Ketua Senat Akademik (2020 – 2024) dan Pembantu Direktur 2 (2023 – 2026) pada Poltekpar Lombok.
Di mana ia terlibat hampir 100 persen dalam pembangunan fisik dan pengelolaan sistem di sana. Baginya, melihat kondisi kampus saat ini adalah puncak dari sebuah raihan prestasi akademik bidang vokasi pariwisata, namun sekaligus menjadi titik baru di mana ia harus menjadi penonton dari pesta kemeriahan.
“Pemilihan lokasi di Puyung ini juga merupakan sebuah anugerah yang luar biasa yang tadinya kita sudah persiapkan diri untuk bolak balik ke Kuta Mandalika (melekat dalam proposal project ITDC). Tapi qadarullah, saat itu dapatlah lokasi di Puyung (eks lahan PTPN milik Pemprov. NTB – tempat Poltekpar Lombok saat ini berdiri megah, berhadapan dengan Kantor Bupati Loteng,red),” ucap Ramdah saat ditemui, Senin (17/08).
Ujian berat datang saat pembangunan mulai berjalan pada 2017, di mana sengketa lahan muncul dan sempat mengancam kelanjutan proyek strategis nasional ini. Selama periode 2017 hingga 2020, bersama pimpinan, ia harus berhadapan dengan gejolak klaim lahan oleh sejumlah warga yang bahkan sempat memasang tenda dan alat berat di lokasi proyek.
Bersama manajemen, dia tetap teguh berjuang demi kemajuan pariwisata NTB, meski kenyamanan pribadinya menjadi taruhan. Saat itu, karena Poltekpar Lombok belum diakui sebagai Satuan Kerja (Satker) mandiri dan masih menginduk ke Bali, ia harus bolak-balik Mataram-Jago tanpa kepastian gaji/honor/upah yang jelas.
Sebagai bagian dari civitas akademika, kerja kerasnya membuahkan hasil luar biasa. Dengan raihan berbagai penilaian dan akreditasi unggul pada tahun 2025, saat institusi ini belum genap berusia satu dasa warsa, sebuah pencapaian tertinggi bagi institusi pendidikan.
Bersama manajemen dan tim, ia juga berhasil membawa kampus ini meraih standar ISO Internasional yang akan berdampak besar pada pengembangan wisata global selama beberapa tahun ke depan. Visi yang selaras dengan pembangunan NTB, yakni “Makmur Mendunia”.
Sebagai putra daerah Loteng, Ramdah memiliki visi besar untuk memberdayakan SDM lokal agar bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Lebih-lebih dengan adanya KEK Mandalika sebagai salah satu DSP Nasional yang paling disorot internasional.
Terkait ketersediaan SDM di institusi ini, ia mengajak pula putra-putri terbaik daerah yang sudah menjadi ASN (dosen/tenaga pengajar / instruktur dan tenaga pendidikan) untuk bergabung dan membangun institusi ini demi kemajuan dan kemaslahatan warga NTB. Khususnya di bidang pariwisata.
Namun, ironi mulai terasa ketika masa jabatannya berakhir pada 1 Agustus 2026, Ramdah merasa sistem yang ikut ia bangun kini justru berbalik meminggirkannya secara sistematik.
Bayangkan, setelah puluhan tahun mengabdi, dari pelaksana, dosen, kaprodi, Ketua Senat Akademik, bahkan Pembantu Direktur 2 hingga menjadi Penjabat Direktur (Plh) selama beberapa kali, saat ini ia seolah reset ke posisi awal yakni, dosen di prodi Tata Hidang.
Sebagai dosen senior, ia menyadari bahwa dalam dunia birokrasi, keadilan kadang sulit dicapai ketika tidak ada dukungan yang kuat bagi mereka yang benar. Karena itu, dia tidak membagikan pengalaman ini kepada siapapun.
Namun, satu hal yang pasti, semangatnya untuk membangun pariwisata tanah kelahirannya tidak akan pernah padam oleh perubahan jabatan. Baginya, pengabdian adalah harga mati yang tidak bisa ditawar oleh kekuasaan sesaat.
Terkait kampus pariwisata yang menjadi kebanggaan warga NTB ini, dapat dikatakan dia telah berkontribusi di setiap pertumbuhan dan pencapaiannya dan sebaliknya, dia terbukti tidak menjadi orang yang mau membuat kegaduhan dan kejatuhan institusi ini. Sekecil apapun itu.
Sebagai pakar kepemimpinan (Leadership) jebolan University of Canberra (Australia), ia memegang prinsip teguh bahwa sosok pemimpin bisa datang dan pergi silih berganti, namun dedikasi seorang pejuang lokal akan tetap berakar di tanah tempatnya berjuang.
“10 Direktur boleh datang dan pergi. Satu orang Ramdah akan tetap di sini sampai mati,” tandasnya.(RIN)
